Review Makna Lagu Politrik – .Feast: Politik Kotor. Di tengah hiruk-pikuk politik Indonesia yang semakin panas menjelang pilkada serentak akhir 2026, lagu “Politrik” dari .Feast kembali menjadi bahan diskusi hangat di kalangan aktivis dan pecinta musik. Dirilis pada 7 Juni 2024 sebagai single pembuka album “Membangun & Menghancurkan”, lagu ini diciptakan oleh Baskara Putra dengan aransemen rock agresif yang khas band ini. Makna utamanya, “politik kotor” – kritik tajam terhadap manipulasi, korupsi, dan trik licik di dunia politik – terasa semakin relevan. Baru-baru ini, setelah penampilan live di Pestapora 2025 yang memicu kontroversi, lagu ini viral lagi di X dan TikTok, digunakan sebagai backsound kritik terhadap kebijakan pemerintah. Di era di mana isu korupsi dan ketidakadilan sosial masih mendominasi berita, review makna “Politrik” seperti pengingat pedas bahwa musik bisa jadi senjata perlawanan. Dalam ulasan ini, kita kupas dari asal-usul hingga dampaknya kini, dengan nada santai tapi tegas. MAKNA LAGU

Latar Belakang Lagu dan Band: Review Makna Lagu Politrik – .Feast: Politik Kotor

.Feast dibentuk pada 2012 di Jakarta oleh Baskara Putra dan kawan-kawan, awalnya dari kalangan mahasiswa FISIP UI yang gemar kritik sosial. Band ini terdiri dari Baskara (vokal dan synth), Adnan Satyanugraha (gitar), Dicky Renanda (gitar), dan Fadli Fikriawan (bass). Mereka dikenal lewat album seperti “Multiverses” pada 2018, yang sarat isu politik, dan terus konsisten dengan gaya rock alternatif bercampur hip-hop. “Politrik” lahir dari kekhawatiran Baskara terhadap kondisi sosio-politik satu dekade terakhir, termasuk isu korupsi dan manipulasi media. Direkam di studio independen dengan produksi dari label Sun Eater, lagu ini punya tempo cepat, distorsi gitar berat, dan elemen synth yang menciptakan nuansa kemarahan terstruktur. Saat rilis, ia langsung jadi sorotan karena judulnya yang main kata antara “politik” dan “trik”, menyindir praktik politik penuh tipu daya. Album “Membangun & Menghancurkan” yang menyusul pada Agustus 2024 memperkuat tema ini, dengan penjualan digital mencapai jutaan stream di Spotify. .Feast sering tampil di festival besar seperti We The Fest, dan di 2025, mereka menang penghargaan AMI Awards untuk kategori lagu rock terbaik berkat “Politrik”. Di 2026, dengan rencana tur nasional, lagu ini tetap jadi andalan, membuktikan band ini tak pernah jauh dari akar aktivisme mereka.

Analisis Lirik dan Makna Utama: Review Makna Lagu Politrik – .Feast: Politik Kotor

Lirik “Politrik” dimulai dengan pengakuan satir: “Kita semua berdosa, tapi dosa mereka lebih besar.” Ini langsung menyiratkan makna inti: politik kotor sebagai sistem yang korup, di mana penguasa manipulasi rakyat demi kepentingan pribadi. Kata “politrik” sendiri adalah plesetan cerdas, menggabungkan “politik” dan “trik”, menggambarkan bagaimana janji kampanye sering jadi tipuan belaka. Bagian chorus: “Politrik, politrik, segalanya trik,” berulang seperti mantra kemarahan, kritik terhadap komodifikasi tragedi sosial – seperti bencana alam atau kemiskinan yang dijadikan alat politik. Baskara sisipkan elemen pengakuan dosa: “Aku juga bagian dari masalah ini,” menunjukkan bukan sekadar tuding jari, tapi introspeksi kolektif – masyarakat pun turut andil dalam mempertahankan sistem rusak. Dari sudut semiotik, lirik penuh simbol: “api” sebagai kemarahan rakyat, “tarian” sebagai manipulasi media. Psikologisnya, ini mencerminkan frustrasi generasi muda terhadap ketidakadilan, seperti kasus korupsi e-KTP atau subsidi yang salah sasaran. Bridge lagu menambah kedalaman: “Mereka bilang ini demokrasi, tapi rasanya seperti tirani,” sindir halus terhadap demokrasi semu di Indonesia. Secara musikal, beat cepat dan growl vokal perkuat chaos, seolah ajak pendengar bangkit. Secara keseluruhan, maknanya realistis: politik kotor bukan takdir, tapi hasil pilihan, dan bisa diubah dengan kesadaran.

Dampak dan Relevansi di Masa Kini

Sejak rilis, “Politrik” telah memicu gelombang pengaruh di budaya pop dan aktivisme Indonesia. Di 2026, lagu ini masih sering dikutip di podcast politik seperti “Endgame”, terutama setelah revisi UU KPK akhir 2025 yang dikritik sebagai pelemahan anti-korupsi. Dampaknya terlihat di media sosial: hashtag #PolitrikFeast punya jutaan post, dari analisis lirik hingga meme sindir calon pilkada. Video musiknya, yang penuh candaan dan kritik terhadap industri serta politik, menampilkan cameo musisi lain, menambah viralitas. Secara sosial, maknanya resonan di tengah isu seperti ketimpangan ekonomi dan manipulasi berita palsu menjelang pemilu. Lagu ini dipakai di demo mahasiswa, seperti protes omnibus law, tekankan pentingnya transparansi. Review dari jurnal akademik soroti bagaimana .Feast gunakan metafungsi bahasa Halliday untuk kritik sosial, membuatnya tak sekadar hiburan. Kritik muncul soal lirik terlalu provokatif, tapi itu justru kekuatannya – bikin diskusi hidup. Ekonomi-wise, royalti dari stream terus tinggi, terutama setelah kolaborasi dengan Ramengvrl di versi remix 2025. Di era 2026 dengan AI musik, “Politrik” ingatkan nilai autentisitas kritik. Relevansinya tak pudar; malah semakin kuat saat .Feast rilis single baru Maret 2026, tema korupsi, membangkitkan perdebatan tentang peran seni dalam politik.

Kesimpulan

“Politrik” dari .Feast adalah karya pedas yang abadi, menggambarkan politik kotor sebagai trik yang merusak bangsa. Maknanya tentang manipulasi dan introspeksi ajak kita waspadai sistem rusak, tanpa jadi bagiannya. Di 2026, dengan politik semakin kompleks, lagu ini tetap jadi suara perlawanan bagi generasi muda. Ini bukan sekadar rock, tapi panggilan aksi melawan korupsi. Dengan karir .Feast yang terus kritis, ia inspirasi renungkan ulang demokrasi kita. Ini reminder: politik bisa bersih jika rakyat tak tertipu trik. Jika Anda belum dengar lagi, putar sekarang – maknanya terasa lebih relevan di masa kini. .Feast buktikan, musik bisa jadi alat ubah masyarakat.

BACA SELENGKAPNYA DI…