Review Lagu Rockstar – Post Malone ft. 21 Savage. Di pertengahan 2026, Rockstar milik Post Malone featuring 21 Savage kembali mencuri perhatian setelah lagu ini melampaui 3,5 miliar stream secara global. Dirilis pada April 2017 sebagai lead single dari album beerbongs & bentleys, track ini langsung jadi fenomena dan memegang rekor sebagai salah satu lagu paling diputar sepanjang masa di platform digital. Hampir satu dekade kemudian, Rockstar masih sering muncul di playlist viral, konser, dan bahkan acara olahraga besar. Dengan perpaduan antara melodi catchy Post Malone dan verse dingin 21 Savage, lagu ini berhasil menjembatani pop, trap, dan rock, menciptakan formula yang masih banyak ditiru hingga sekarang. Di era musik yang terus berubah cepat, Rockstar tetap bertahan sebagai anthem generasi yang suka hidup di ujung tanduk. REVIEW FILM

Produksi yang Minimalis tapi Adiktif: Review Lagu Rockstar – Post Malone ft. 21 Savage

Produksi Rockstar dibuat oleh Metro Boomin bersama produser lain, dan pendekatannya sangat sederhana. Beat utamanya bergantung pada gitar elektrik yang distorted ringan, bass 808 yang dalam, dan drum trap yang lambat tapi punchy. Tidak ada layer instrumen berlebih; malah justru kekosongan di beberapa bagian membuat vokal terasa lebih menonjol. Gitar itu memberikan nuansa rock yang halus, sementara elemen trap membuatnya tetap terasa modern dan cocok untuk klub atau mobil.

Intro dengan suara gitar langsung menarik perhatian, lalu masuk ke hook yang berulang-ulang: “I’ve been fuckin’ hoes and poppin’ pillies…” yang disampaikan dengan nada santai tapi penuh energi. Struktur lagu pendek, sekitar empat menit, tapi setiap detik terasa padat. Di 2026, ketika banyak lagu bergantung pada efek suara berat atau drop besar, produksi Rockstar terasa segar karena keberaniannya memilih minimalis. Ia jadi contoh bagaimana satu gitar riff sederhana bisa lebih memorable daripada produksi rumit.

Lirik yang Brutal dan Jujur tentang Gaya Hidup Rockstar: Review Lagu Rockstar – Post Malone ft. 21 Savage

Lirik Rockstar penuh dengan gambaran hidup glamor tapi gelap. Post Malone membuka dengan baris yang langsung to the point: “I been fuckin’ hoes and poppin’ pillies / Man, I feel just like a rockstar.” Ia menggambarkan siklus pesta, obat-obatan, kekerasan, dan kekayaan yang datang bersama ketenaran. Ada rasa bangga sekaligus kelelahan di balik kata-katanya—seperti seseorang yang menikmati puncak tapi tahu harganya mahal.

21 Savage masuk di verse kedua dengan gaya dingin dan tajam khasnya. Ia menambahkan lapisan ancaman dan realitas jalanan: “I got a chopper that stay in the backseat / I got a bad bitch that stay in the backseat.” Kontras antara nada santai Post Malone dan delivery low-key tapi mengintimidasi 21 Savage membuat lagu ini punya dinamika menarik. Tema utamanya adalah dualitas rockstar life: kemewahan, bahaya, dan kehampaan di baliknya. Liriknya sederhana tapi efektif, penuh punchline yang mudah diingat, dan hook yang langsung menempel. Di masa sekarang, ketika banyak artis membahas kesehatan mental dan sisi gelap ketenaran, Rockstar terasa seperti pengakuan awal dari era itu.

Dampak Budaya dan Dominasi yang Masih Terasa

Sejak rilis, Rockstar menduduki nomor satu di berbagai negara selama berbulan-bulan, memenangkan banyak penghargaan, dan video klipnya—dengan visual gila penuh kekerasan dan pesta—menjadi salah satu yang paling ditonton. Lagu ini membantu Post Malone naik dari rapper underground ke superstar mainstream, sekaligus membuka jalan bagi kolaborasi trap-pop yang kini mendominasi chart.

Di 2025-2026, Rockstar masih sering dibahas ulang. Milestone stream baru-baru ini memicu nostalgia di media sosial, dan Post Malone sendiri sering membawakannya di tur terbaru dengan energi yang sama. 21 Savage juga menyebut lagu ini sebagai salah satu favoritnya dalam wawancara terkini. Ia memengaruhi banyak artis muda yang mencoba menggabungkan melodi emosional dengan trap keras. Bahkan di festival musik besar, bagian hook sering dinyanyikan massal, membuktikan daya tarik lintas generasi. Rockstar juga jadi simbol bagaimana satu lagu bisa mengubah persepsi tentang genre—membuat trap terdengar lebih luas dan mudah diterima.

Kesimpulan

Rockstar adalah lagu yang sempurna menangkap semangat akhir 2010-an: campuran antara euforia, kehancuran, dan ketenaran yang datang terlalu cepat. Post Malone dan 21 Savage berhasil menciptakan track yang komersial sukses besar tanpa kehilangan edge. Produksi pintar, lirik jujur, dan hook tak terlupakan membuatnya tetap relevan di 2026, terutama saat musik terus berevolusi ke arah yang lebih introspektif. Lagu ini bukan hanya hit; ia adalah cerminan budaya pesta yang intens dan konsekuensinya. Bagi pendengar lama maupun baru, Rockstar tetap jadi pengingat bahwa kombinasi yang tepat antara melodi dan realitas bisa menciptakan sesuatu yang abadi. Track ini masih jadi standar tinggi untuk lagu kolaborasi yang berani, catchy, dan tak lekang waktu.

BACA SELENGKAPNYA DI…