Makna Lagu High School in Jakarta – NIKI. Di akhir 2025, “High School in Jakarta” masih jadi lagu wajib tiap kali orang ingin bernostalgia ke masa remaja yang penuh drama, jerawat, dan cinta monyet. Dirilis Agustus 2022 sebagai single pertama dari album Nicole, lagu ini langsung viral karena kejujurannya yang brutal: NIKI ceritakan masa SMA-nya di Jakarta dengan detail yang bikin siapa saja yang pernah sekolah di ibu kota mengangguk keras. Beat trap yang kencang, vokal yang sarkastik, dan lirik yang seperti curhat di grup kelas membuat lagu ini terasa seperti time capsule tahun 2013–2016. Tiga tahun kemudian, lagu ini tetap jadi anthem bagi yang pernah naksir temen sekelas, takut nilai rapor, dan ngerasain betapa Jakarta bisa bikin orang gila sekaligus jatuh cinta. INFO CASINO

Latar Belakang yang 100% Jakarta Banget: Makna Lagu High School in Jakarta – NIKI

NIKI, yang waktu itu masih bernama Nicole Zefanya, memang menjalani tahun-tahun SMA di salah satu sekolah internasional di Jakarta Selatan. Di balik gedung ber-AC dan seragam putih abu-abu, ia rasakan tekanan yang sama seperti anak SMA lain: ekspektasi orang tua, persaingan nilai, gosip yang nyebar cepat, dan cinta yang terasa seperti urusan hidup-mati. Lagu ini ditulis saat ia sudah di Amerika, tapi memorinya masih segar—dari kemacetan di Jalan Jendral Sudirman sampai drama di kantin sekolah. Ia bilang sendiri di konser Jakarta 2023: “Ini lagu tentang masa ketika semua terasa terlalu besar, padahal kita masih kecil.” Hasilnya, track yang terdengar marah, lucu, dan sedih sekaligus—persis rasa remaja.

Lirik yang Seperti Screenshot Chat Kelas: Makna Lagu High School in Jakarta – NIKI

Lagu dibuka langsung tanpa basa-basi: “Didn’t you hear Amanda’s got a baby daddy? / Well, congratulations, she faked it for the clout.” Satu baris itu sudah gambarkan ekosistem gosip SMA Jakarta: semua orang tahu urusan semua orang, dan media sosial jadi senjata utama.

Chorus paling ikonik: “High school in Jakarta, kinda modern Sparta / Had to dodge the bullshit, had to go and guard ya / High school in Jakarta, what a feral place / Everybody’s fake, had to learn it the hard way.” Sparta dan “feral” bukan lebay—NIKI gambarkan sekolah sebagai arena perang sosial: kompetisi ranking, flexing brand, dan pertemanan yang bisa putus karena satu postingan.

Verse kedua lebih dalam: “Teachers always askin’ ‘What you gonna do next?’ / I said ‘I don’t know, maybe I’ll just die.’” Ini bukan candaan—ia bicara soal tekanan akademik dan ekspektasi masa depan yang bikin remaja merasa tercekik. Bridge jadi puncak: “I’m glad I left at seventeen / ‘Cause I’d rather die than relive that scene.” Tapi di outro ia akui: “Still kinda miss it sometimes.” Dualitas itu yang bikin lagu ini terasa hidup.

Tema Besar: Trauma, Nostalgia, dan Pembebasan

Lagu ini punya tiga lapisan:

  1. Kritik tajam ke budaya kompetitif dan toxic di kalangan remaja elite Jakarta
  2. Pengakuan bahwa masa SMA, sebrengsek apa pun, tetap membentuk karakter
  3. Rasa lega akhirnya bisa kabur dan melihat semuanya dari jauh

Di 2025, ketika anak-anak sekarang menghadapi tekanan yang bahkan lebih gila (rank 1 nasional, UTBK, dan konten TikTok), pesan NIKI malah semakin relevan: masa SMA memang neraka, tapi kamu akan keluar dari sana—dan suatu hari kamu bahkan akan tertawa mengenangnya.

Kesimpulan

“High School in Jakarta” bukan sekadar lagu nostalgia; ia cermin jujur tentang masa remaja di kota yang tak pernah tidur. Dengan beat yang nendang dan lirik yang tak takut kasar, NIKI berhasil mengemas pengalaman puluhan ribu anak Jakarta dalam tiga setengah menit. Tiga tahun setelah rilis, lagu ini tetap jadi terapi kolektif: mendengarnya seperti reuni kelas tanpa harus ketemu orang-orang yang dulu bikin hidup susah. Jadi kalau malam ini kamu tiba-tiba teringat mantan, nilai matematika yang hancur, atau drama di kantin—putar saja lagu ini. Kamu tidak sendiri, dan yang terpenting: kamu sudah selamat keluar dari Sparta itu.

BACA SELENGKAPNYA DI…