Makna Lagu God is a woman – Ariana Grande. “God is a woman” masih jadi lagu paling berani dan paling banyak dibicarakan dari seluruh diskografi penyanyi bersuara empat oktaf itu. Dirilis Juli 2018 sebagai single kedua album keempat, lagu ini langsung memecahkan rekor streaming harian perempuan di platform musik global dan bertahan berminggu-minggu di sepuluh besar tangga lagu dunia. Dengan paduan suara gereja yang megah, beat trap yang sensual, dan pernyataan tegas bahwa kenikmatan seksual perempuan begitu kuat hingga bisa membuat pasangannya percaya Tuhan berwujud perempuan, lagu ini langsung jadi anthem femininitas, seksualitas, dan kekuatan ilahi yang feminin. Tujuh tahun kemudian, lagu ini masih sering diputar di playlist empowerment dan terus memicu diskusi soal spiritualitas, gender, dan hak atas tubuh sendiri. INFO CASINO

Proses Kreatif dan Kolaborasi: Makna Lagu God is a woman – Ariana Grande

Lagu ini lahir dari sesi studio dadakan bersama Max Martin dan Ilya Salmanzadeh, duo yang sudah bertanggung jawab atas banyak hit besar penyanyi itu. Ide awal muncul ketika mereka bereksperimen dengan sampel paduan suara wanita yang terdengar sakral, lalu dipadukan dengan trap beat modern. Penyanyi itu sendiri yang mengusulkan judul provokatif tersebut setelah mendengar demo pertama. Ia juga mengajak Madonna untuk memberikan narasi pendek di bagian akhir, suara legenda yang membacakan ayat dari Kitab Yehezkiel dengan twist feminis, menegaskan bahwa “when all is said and done, you’ll believe God is a woman”. Video musiknya yang penuh simbolisme, dari penyanyi sebagai ibu pencipta alam semesta hingga adegan di mana ia menangkis serangan dengan kekuatan feminin, semakin memperkuat pesan bahwa perempuan bisa jadi sumber kekuatan tertinggi.

Makna Lirik: Seksualitas sebagai Kekuatan Ilahi: Makna Lagu God is a woman – Ariana Grande

Liriknya blak-blakan sekaligus puitis. Baris “You, you love it how I move you / You love it how I touch you / My one, when all is said and done / You’ll believe God is a woman” adalah deklarasi bahwa orgasme yang diberikan perempuan begitu transenden hingga mampu mengguncang keyakinan pasangannya. Bagian pre-chorus “And I can be all the things you told me not to be / When you try to come for me, I keep on flourishing” menjawab kritik lama bahwa perempuan yang terbuka soal seksualitasnya adalah “dosa”, malah dibalik menjadi sumber kekuatan. Lagu ini juga menyentuh spiritualitas secara universal: kenikmatan fisik dan cinta yang tulus bisa jadi jalan menuju pencerahan, siapa pun yang memberikannya.

Dampak Budaya dan Kontroversi yang Menyertai

Rilisnya langsung memicu reaksi beragam. Sebagian memuji sebagai karya feminis paling berani di pop mainstream, sebagian lain menganggapnya blasphemous karena “menyandingkan Tuhan dengan seks”. Namun justru kontroversi itu yang membuat lagu ini terus hidup. Penampilan live di acara penghargaan dengan latar paduan suara wanita kulit hitam dan gerakan sensual yang anggun menjadi salah satu momen paling ikonik dekade itu. Lagu ini juga sering dikaitkan dengan gerakan body positivity dan sex positivity, terutama karena penyanyi itu tampil percaya diri dengan tubuhnya sendiri di tengah sorotan publik yang sering kejam. Hingga kini, setiap kali lagu ini diputar, suasana langsung berubah jadi perayaan kekuatan perempuan tanpa permintaan maaf.

Kesimpulan

“God is a woman” bukan sekadar lagu sensual, melainkan manifesto bahwa kekuatan perempuan, seksualitas perempuan, dan kelembutan perempuan bisa jadi wujud ilahi yang paling nyata. Dengan menggabungkan trap, gospel, dan pop menjadi satu ledakan emosi, lagu ini berhasil membuat jutaan orang, perempuan maupun laki-laki, merasa lebih berkuasa atas tubuh dan hasrat mereka sendiri. Tujuh tahun berlalu, pesannya masih terasa segar: jika cinta dan kenikmatan yang tulus bisa membuat seseorang melihat surga, maka ya, mungkin Tuhan memang berwujud perempuan, atau setidaknya, Dia mengerti betul bagaimana rasanya jadi satu.

BACA SELENGKAPNYA DI…